MIN 10 Asahan Gelar Apel Pagi Sambut Hari Pertama Asesmen Madrasah Tahun 2026
kisaran (Humas) Dalam rangka menyambut pelaksanaan Asesmen Madrasah Tahun 2026, MIN 10 Asahan menggelar apel pagi yang berlangsung dengan kh...
Loading...
Pada pembelajaran kali ini, siswa mempelajari materi tajwid mengenai alif lam syamsiyah dan alif lam qomariyah dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi kelompok. Metode tersebut dipilih agar siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga aktif berdiskusi dan menemukan sendiri perbedaan cara membaca kedua hukum tajwid tersebut.
Kegiatan diawali dengan metode ceramah, di mana guru menjelaskan pengertian, ciri-ciri, serta contoh bacaan alif lam syamsiyah dan qomariyah secara sederhana dan mudah dipahami siswa kelas 2. Dengan penuh kesabaran, guru memberikan contoh-contoh lafaz dalam Al-Qur’an seperti “الشَّمْسُ” dan “الْقَمَرُ” untuk membantu siswa memahami perbedaan bacaan yang dibaca lebur dan yang dibaca jelas.
Setelah penjelasan materi selesai, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi kelompok. Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok diminta mengamati contoh-contoh bacaan yang telah diberikan, kemudian mendiskusikan cara membaca yang benar bersama teman-teman mereka. Suasana kelas tampak hidup karena para siswa saling bertukar pendapat dan aktif bertanya kepada guru.
Melalui metode diskusi kelompok, siswa terlihat lebih percaya diri dalam menyampaikan hasil pengamatannya. Bahkan beberapa siswa dengan berani maju ke depan kelas untuk membacakan contoh bacaan alif lam syamsiyah dan qomariyah di hadapan teman-temannya. Kegiatan ini membuat siswa lebih memahami konsep tajwid, bukan sekadar menghafal teori.
Sartiji, S.Pd.I., M.M. menyampaikan bahwa pembelajaran aktif seperti ini sangat penting diterapkan di madrasah agar siswa memiliki semangat belajar yang tinggi dan mampu memahami pelajaran agama dengan baik sejak usia dini. Menurut beliau, metode ceramah yang dipadukan dengan diskusi kelompok dapat melatih keberanian, kerja sama, dan kemampuan berpikir siswa.
“Kami terus mendukung para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan agar siswa lebih mudah memahami materi, khususnya dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadis,” ujarnya.
Sementara itu, Nanik Yusli Setiawati, S.Pd.I menjelaskan bahwa siswa kelas 2 sangat antusias mengikuti pembelajaran karena mereka dapat belajar sambil berdiskusi bersama teman kelompoknya. Dengan cara tersebut, siswa lebih cepat memahami perbedaan bacaan tajwid dan mampu mempraktikkannya secara langsung.
Kegiatan pembelajaran ini menjadi salah satu bentuk komitmen MIN 10 Asahan dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pada bidang pendidikan agama Islam. Diharapkan melalui pembelajaran yang aktif, inovatif, dan menyenangkan, siswa mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah tajwid sejak dini.(na)
kisaran (Humas) Dalam rangka menyambut pelaksanaan Asesmen Madrasah Tahun 2026, MIN 10 Asahan menggelar apel pagi yang berlangsung dengan kh...
Kisaran (Humas) Kegiatan pembelajaran mata pelajaran Al-Qur’an Hadis di kelas 2 MIN 10 Asahan berlangsung aktif dan penuh semangat. Pembelaj...
Kisaran (Humas). Suasana belajar yang penuh semangat tampak di ruang kelas saat guru bidang studi Pendidikan Agama Islam, Alia Cantika Nasut...