Dari Sekretariat LPTQ Asahan, Semangat Al-Qur’an Menggema Menyongsong MTQN Sumut 2026
Bimbingan Penyuluhan Seni Budaya Islam
Loading...
Kisaran (Humas) – Senja Ramadhan di Rumah Adat Sunda Kisaran menghadirkan suasana yang begitu syahdu. Saat langit perlahan meredup dan menunggu detik-detik adzan Maghrib berkumandang, tokoh-tokoh etnis, tokoh agama, dan jajaran kepolisian duduk bersisian dalam satu majelis kebersamaan. Momen ini menjadi gambaran indah bagaimana Ramadhan mampu menyatukan hati dalam suasana persaudaraan yang hangat.
Kegiatan buka puasa bersama yang digelar Etnis Sunda pada Rabu, 11 Maret 2026 di Rumah Adat Sunda Kisaran tersebut menjadi ruang silaturahmi lintas etnis yang sarat makna. Dalam keheningan menjelang berbuka, para undangan tampak larut dalam doa dan harapan agar Ramadhan membawa keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Asahan.
Ketika adzan Maghrib akhirnya berkumandang, suasana haru pun terasa. Semua yang hadir berbuka bersama dalam kebersamaan yang sederhana namun penuh makna, seakan menegaskan bahwa Ramadhan tidak hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa saling menghormati di tengah keberagaman.
Dalam sambutannya, Revi Nurvelani menyampaikan bahwa keberagaman etnis dan budaya di Kabupaten Asahan merupakan anugerah yang harus dijaga bersama dengan semangat persatuan.
Menurutnya, momen Ramadhan seperti ini menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk mempererat silaturahmi antara tokoh masyarakat, lembaga adat, dan aparat keamanan.
“Ramadhan mengajarkan kita untuk saling mendekatkan hati. Ketika para tokoh etnis duduk bersama dalam suasana kebersamaan seperti ini, maka pesan kedamaian dan persatuan akan sampai kepada seluruh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Lembaga Adat (FORKALA) Kabupaten Asahan, Makmur Hasibuan, menegaskan bahwa kebersamaan lintas etnis yang terjalin dalam kegiatan ini merupakan simbol kuatnya persaudaraan masyarakat Asahan yang hidup dalam keberagaman.
Ia menilai, tradisi silaturahmi di bulan Ramadhan menjadi perekat sosial yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan dan persatuan.
“Kita mungkin berasal dari latar belakang etnis yang berbeda, namun Ramadhan mengingatkan bahwa kita semua adalah saudara yang hidup di tanah yang sama, menjaga daerah ini dengan semangat kebersamaan,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI ) Kabupaten Asahan, Raja Dedi Hermansyah. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa suasana buka puasa bersama yang mempertemukan tokoh etnis, tokoh adat, dan unsur kepolisian merupakan cerminan indah nilai-nilai Ramadhan.
Menurutnya, Ramadhan adalah madrasah kehidupan yang mengajarkan manusia untuk menumbuhkan empati, merawat persaudaraan, serta memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
“Ketika kita duduk bersama menunggu adzan Maghrib, sesungguhnya yang sedang dipertemukan bukan hanya tubuh kita, tetapi juga hati kita. Inilah wajah Ramadhan yang sesungguhnya—Ramadhan yang menyejukkan, mempersatukan, dan menumbuhkan harapan bagi masyarakat,” tuturnya.
Acara buka puasa bersama tersebut berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Canda, doa, dan kehangatan silaturahmi mengalir di antara para tokoh yang hadir.
Di tengah keberagaman suku, budaya, dan adat istiadat di Kabupaten Asahan, momen Ramadhan ini menjadi pengingat bahwa persatuan dan kebersamaan adalah kekuatan besar yang harus terus dijaga.
Karena di bulan suci ini, ketika adzan Maghrib berkumandang dan tangan-tangan terangkat dalam doa, semua perbedaan seakan luluh, berganti dengan satu rasa yang sama: persaudaraan. (RH)
Bimbingan Penyuluhan Seni Budaya Islam
Bimbingan Penyuluhan Keluarga & Narkoba
Bimbingan Penyuluhan Keluarga Sakinah