Loading...

  • Rabu, 29 Juli 2026

Penyuluh Katolik: Memaknai Film Ngeri-ngeri Sedap

Penyuluhan kepada kelompok binaan

Asahan (Penyuluh Katolik News). Film bukan saja sekedar hiburan untuk menghilangkan rasa jenuh terhadap rutinitas harian. Film dapat dijadikan media untuk menyampaikan berbagai macam pesan atau bisa menjadi alat propaganda. Film menjadi media yang baik di zaman sekarang menyampaikan nasihat-nasihat atau ajaran budaya dan agama. Senin, 18 November 2024, Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja, M.Fil. mengadakan nonton bersama ngeri-ngeri sedap untuk kelompok binaan yaitu Bina Iman Remaja Katolik UPTD SMP Negeri 3 Simpang Empat Desa Sungai Lama.

Pada awal penyuluhan, Irawan mengajak kelompok binaan untuk menonton film ngeri-ngeri sedap. Irawan memilih film ngeri-ngeri sedap karena memiliki banyak nilai adat, budaya, dan agama yang banyak dianut Batak Toba. Adat, budaya, dan agama kelompok binaan adalah Batak Toba dan Katolik. Irawan mengajak kelompok binaan untuk memetik nilai-nilai yang terdapat di dalam film ngeri-ngeri sedap tersebut.

Penyuluh yang akrab dipanggil Wawan menjelaskan, “Film ngeri-ngeri sedap ini tayang tahun 2022 dan sudah ditonton banyak orang. Menurut saya, film ini sangat relevan dengan orang Batak Toba. Setting tempatnya berada di sekitaran danau Toba. Budaya yang ditampilkan adalah budaya Batak Toba.” “Pesan yang ingin disampaikan juga mudah ditangkap yang dibungkus dengan komedi-komedi sederhana kehidupan orang Batak Toba Kristen. Film ini menyajikan bagaimana liku-liku hidup dalam sebuah keluarga Batak Toba Kristen,” lanjut Irawan. 

Selesai menonton film, Irawan menyuruh peserta menceritakan refleksi (kesan dan pesan) yang diperoleh. Dion menyebutkan bahwa dia sangat terharu melihat pertengkaran antara anak dan orang tua, Pak Domu dan keempat anaknya. Riani berpikir bahwa jodoh bukan harus sesama orang Batak Toba tetapi terbuka dari suku lain. Alpino menangkap bahwa bagaimanapun keluarga merupakan harta yang paling berharga dalam hidup. Irawan berharap dengan menonton film ini, kelompok mengutamakan keluarga sebagai tempat persemaian awal iman, pendidikan, cara bersikap, dll. (AW) 

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post