Loading...

  • Rabu, 29 Juli 2026

Penyuluh Agama Katolik Pimpin Ibadat BKSN Pertemuan Ketiga: Membarui Relasi dengan Keluarga

Penyuluh sedang memimpin ibadat

Asahan (Humas BimKat). Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kab. Asahan, Alb Irawan Dwiatmaja melaksanakan ibadat bersama untuk pertemuan ketiga pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 bersama kelompok remaja Katolik di UPTD SMP Negeri 2 Pulau Rakyat, Desa Padang Mahondang pada Jumat, 26 September 2025. Wawan melaksanakan ibadat BKSN yang ketiga dengan tema Umat Katolik yang Bermisi Membarui Relasi dengan Keluarga dari Mal. 2:10-16. Wawan ingin para remaja dapat semakin hidup dengan benar dengan berlaku setia kepada keluarganya, membangun dan memelihara soliditas keluarga demi persekutuan gerejawi, dan melakukan aksi nyata membarui relasi dalam keluarga mereka.

 

Pada pertemuan ketiga, para remaja diajak untuk merenungkan nubuat Nabi Maleakhi yang harus berhadapan dengan umat yang tidak peduli lagi dengan iman. Ketidakpedulian itu terungkap dalam tindakan banyak suami Yahudi yang menceraikan istri mereka. Padahal dalam perkawinan, Allah telah mempersatukan seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam ikatan kasih. Namun, mereka mengabaikan kebenaran ini dan menceraikan istrinya kalau sudah tidak senang lagi kepadanya, dan ada perempuan lain yang dianggap dapat lebih menyenangkannya. Banyak yang menceraikan istri Yahudi mereka supaya bisa mengawini perempuan asing. Nabi Maleakhi mengingatkan mereka bahwa Allah menghendaki kesetiaan dalam perkawinan. Ketidaksetiaan adalah dosa kepada pasangan dan kepada Allah. Dalam

 

“Para saudara yang terkasih. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan melihat bahwa keluarga adalah taman kasih yang dikehendaki Allah sejak awal penciptaan; di sanalah manusia belajar mencintai dan setia. Kitab Maleakhi 2:10–16 menyingkapkan betapa seriusnya Allah memandang relasi dalam keluarga, khususnya kesetiaan dalam perkawinan. Tuhan menegur umat-Nya karena mengkhianati pasangan hidup mereka dan menyakiti hati-Nya dengan menikahi perempuan penyembah ilah asing serta menajiskan Tempat Kudus. Pengkhianatan terhadap istri menjadi tanda rusaknya perjanjian kasih yang semestinya kudus. Tuhan menolak persembahan umat yang tidak disertai kesetiaan sejati. Kasih dan kesetiaan kepada pasangan bukan sekadar urusan pribadi, tetapi bagian dari iman dan ibadah sejati.”, jelas Wawan.

 

Kesetiaan dalam keluarga menjadi cermin kasih Allah dan wujud nyata misi Gereja. Gereja bersukacita atas cinta yang tumbuh dalam keluarga, meskipun tak ada keluarga sempurna. Dalam kasih yang sejati, luka dapat dipulihkan dan relasi yang retak dapat diperbarui. Relasi yang sehat dan saling membangun di dalam keluarga merupakan buah dari kesetiaan dan juga kontribusi nyata bagi kehidupan Gereja dan masyarakat.  


Dalam ibadat BKSN ini Wawan menekankan, “Kita dipanggil untuk mengambil langkah konkret dalam mewujudkan pertemuan ketiga ini yaitu menetapkan waktu makan bersama, membangun kebiasaan doa keluarga, membatasi penggunaan gawai, dan menciptakan suasana rumah yang hangat. Dari tindakan-tindakan sederhana inilah kesetiaan dipelihara, cinta dikuatkan, dan keluarga menjadi tempat hadirnya Allah yang penuh kasih.” (AW)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 15 May 2024
Lihat Semua Post