Pembelajaran Asmaul Husna Lebih Fokus dan Mendalam melalui Al-Wahid, Al-Ahad, dan As-Shamad
Kisaran (Humas) Pembelajaran Inovasi di madrasah terus dikembangkan agar lebih menarik, bermakna, dan mudah dipahami siswa. Salah satu inova...
Loading...
Guru Karimuddin Siregar, menyampaikan bahwa fokus pembelajaran pada tiga Asmaul Husna tersebut bertujuan untuk menanamkan nilai tauhid sejak dini kepada siswa. Menurutnya, Al-Wahid dan Al-Ahad sama-sama menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah, sedangkan As-Shamad mengajarkan bahwa hanya Allah tempat manusia bergantung dan memohon pertolongan.
Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan model Discovery Learning, Role Play, dan Mini Project agar siswa lebih aktif dan kreatif selama belajar. Pada kegiatan pembuka, guru mengajak siswa berdiskusi dengan pertanyaan sederhana seperti, “Kalau kita punya masalah, biasanya kita meminta tolong kepada siapa?” Pertanyaan tersebut menjadi pengantar untuk menanamkan pemahaman bahwa manusia harus selalu bergantung kepada Allah.
Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk melakukan kegiatan penemuan makna Asmaul Husna. Guru menuliskan kata Al-Wahid, Al-Ahad, dan As-Shamad di papan tulis, kemudian siswa diminta menebak arti dan mendiskusikannya bersama kelompok masing-masing. Kegiatan ini membuat siswa lebih aktif berpikir dan berani menyampaikan pendapat.
Suasana pembelajaran semakin menarik ketika memasuki sesi bermain peran atau role play. Setiap kelompok diberikan situasi berbeda yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ada kelompok yang memerankan seorang anak kehilangan barang, ada yang memperagakan sikap jujur saat bermain, dan ada pula yang menunjukkan bagaimana cara berdoa ketika menghadapi masalah. Dari kegiatan tersebut, siswa belajar mengaitkan perilaku sehari-hari dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Wahid, Al-Ahad, dan As-Shamad.
Tidak hanya itu, siswa juga membuat mini project berupa poster, cerita pendek, dan komik sederhana bertema “Allah Satu, Tempat Bergantung”. Melalui kegiatan kreatif tersebut, siswa terlihat antusias menuangkan ide dan pemahaman mereka tentang keesaan Allah. Hasil karya siswa kemudian dipajang di kelas sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan semangat belajar mereka.
Menurut Karimuddin Siregar, metode pembelajaran yang interaktif mampu membuat siswa lebih mudah memahami materi dibandingkan hanya mendengarkan penjelasan guru. Siswa menjadi lebih percaya diri, aktif bertanya, dan mampu bekerja sama dengan teman dalam kelompok.
Kepala madrasah, Sartiji, S.Pd.I., M.M., memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran tersebut. Ia menilai bahwa pembelajaran kreatif seperti ini sangat penting untuk membangun karakter religius siswa sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah. Menurutnya, pendidikan agama tidak hanya menekankan hafalan, tetapi juga harus mampu membentuk sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau berharap kegiatan pembelajaran inovatif seperti ini terus dikembangkan oleh para guru agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Dengan pendekatan yang aktif dan kreatif, siswa diharapkan mampu memahami nilai-nilai agama secara lebih mendalam serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembelajaran Asmaul Husna yang fokus pada Al-Wahid, Al-Ahad, dan As-Shamad, madrasah berharap dapat menanamkan keimanan yang kuat kepada siswa sejak dini. Selain memahami bahwa Allah Maha Esa, siswa juga dibimbing untuk memiliki kebiasaan berdoa, berikhtiar, jujur, dan selalu bergantung hanya kepada Allah dalam setiap keadaan.(na)
Kisaran (Humas) Pembelajaran Inovasi di madrasah terus dikembangkan agar lebih menarik, bermakna, dan mudah dipahami siswa. Salah satu inova...
Kisaran (Humas) Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MIN 10 Asahan kembali menghadirkan inovasi menarik melalui penerapan metode *...
Kisaran ( Humas) Kegiatan pembelajaran matematika di kelas 1B MIN 10 Asahan berlangsung dengan penuh semangat dan keceriaan. Di bawah bimbin...