Loading...

  • Senin, 11 Mei 2026

Panas Terik Tak Menghalangi Dakwah Ramadhan, Penyuluh Agama Islam Tetap Menyapa Umat Saat Zuhur

Dakwah Ramadhan Bimbingan Penyuluhan Di Masjid Al-Ikhlas Kelurahan Kisaran Naga

Kisaran (Humas)  Kamis 12 Maret 2026 ,  Matahari Ramadhan siang itu seakan membakar bumi. Panasnya terasa menembus kulit, membuat langkah siapa pun terasa berat. Namun bagi para Penyuluh Agama Islam, terik matahari bukanlah penghalang untuk terus berjalan dari masjid ke masjid, membawa pesan-pesan kebaikan bagi umat.

Di Masjid Al-Ikhlas Jalan Durian, Kelurahan Kisaran Naga, Kecamatan Kota Kisaran Timur, suasana siang itu berubah menjadi begitu haru. Jamaah yang hadir untuk menunaikan sholat Zuhur tak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk mendengarkan dakwah Ramadhan yang menyejukkan hati.

Kegiatan Dakwah Ramadhan melalui Bimbingan dan Penyuluhan Keagamaan tersebut dipimpin oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Kota Kisaran Timur, H. Junaidi, S.Ag., MM. Dalam bimbingannya, beliau mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Dengan suara yang lembut namun penuh makna, beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmat yang tidak boleh disia-siakan.

“Ramadhan adalah bulan yang Allah hadirkan untuk membersihkan hati kita. Jangan sampai kita hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi hati kita tetap jauh dari Allah,” pesannya kepada jamaah.

Setelah bimbingan tersebut, tausiyah Ramadhan dilanjutkan oleh Penyuluh Agama Islam H. Raja Dedi Hermansyah bersama Makmur Hasibuan. Ceramah yang mereka sampaikan bukan sekadar kata-kata, tetapi nasihat yang lahir dari pengabdian panjang dalam melayani umat.

H. Raja Dedi Hermansyah dalam ceramahnya menyampaikan bahwa dakwah Ramadhan seringkali harus dilakukan dalam kondisi penuh perjuangan.

“Kadang kami berjalan di bawah panas matahari, dari satu masjid ke masjid lainnya. Tubuh mungkin lelah, tetapi hati kami tetap kuat, karena kami tahu ada umat yang menunggu nasihat agama,” ujarnya dengan suara yang bergetar.

Kata-kata itu membuat suasana masjid seketika menjadi hening. Beberapa jamaah terlihat menundukkan kepala, bahkan ada yang mengusap air mata.

Sementara itu, Makmur Hasibuan mengingatkan jamaah tentang betapa berharganya kesempatan hidup di bulan Ramadhan.

“Ramadhan ini belum tentu kita jumpai lagi tahun depan. Betapa banyak orang yang tahun lalu masih sholat bersama kita, namun hari ini mereka telah kembali kepada Allah. Maka selama kita masih diberi kesempatan, mari kita makmurkan masjid dan perbaiki ibadah kita,” tuturnya penuh harap.

Suasana Masjid Al-Ikhlas siang itu terasa begitu berbeda. Panas terik di luar seolah tak lagi terasa. Di dalam masjid, hati para jamaah justru diliputi kesejukan dan haru.

Dakwah Ramadhan tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian para Penyuluh Agama Islam tidak mengenal lelah. Mereka tetap melangkah, tetap berdiri, dan tetap menyampaikan pesan-pesan kebaikan, meski peluh mengalir di bawah panas matahari.

Karena bagi mereka, setiap langkah menuju masjid adalah ibadah, setiap kata nasihat adalah amanah, dan setiap tetes keringat dalam dakwah adalah cinta untuk umat.

Dan di siang Ramadhan itu, di sebuah masjid sederhana di Kisaran Timur, dakwah kembali menyalakan cahaya harapan di hati umat.(RH)

Tentang Penulis
Penulis di Kemenag Asahan Sejak 13 May 2024
Lihat Semua Post