Finalisasi Juknis Penyembelihan Hewan Kurban, Kemenag Asahan Matangkan Persiapan Demi Pelaksanaan yang Tertib
Bimbingan Penyuluhan Persiapan Pelaksanaan Kurban
Loading...
Kisaran (Humas) — Jum’at, 27 Pebruari 2026 menjadi pagi yang tak biasa di SMKN 1 Kisaran. Ratusan pelajar duduk dalam diam. Di hadapan mereka, Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Raja Dedi Hermansyah, berdiri menyampaikan dakwah Ramadhan yang perlahan menggetarkan suasana.
Beliau membuka tausiyah dengan satu kalimat yang membuat ruangan hening seketika:
“Anak-anakku… Ramadhan berasal dari kata ramadha — yang berarti panas yang membakar. Ia adalah bulan pembakaran… pembakaran dosa-dosa kita.”
Kalimat itu menggantung di udara. Para pelajar terdiam.
Dengan suara yang mulai bergetar, beliau melanjutkan, “Jika kayu dibakar, ia akan menjadi arang. Jika emas dibakar, ia akan menjadi lebih murni. Maka orang beriman yang melewati Ramadhan dengan sungguh-sungguh, dosa-dosanya dibakar… jiwanya dimurnikan.”
Beberapa pelajar mulai menunduk.
Beliau kemudian mengajak mereka merenungi dosa yang mungkin dianggap kecil — meninggalkan sholat, melawan orang tua, menyakiti hati ibu dengan ucapan keras, menunda taubat karena merasa masih muda.
“Bayangkan,” ucapnya lirih, “jika malam ini adalah malam terakhir kita… sudahkah kita meminta maaf kepada ibu? Sudahkah kita sujud dengan sungguh-sungguh kepada Allah?”
Suasana berubah. Isak tangis mulai terdengar. Tangis yang awalnya tertahan, kini pecah perlahan.
Raja Dedi Hermansyah kemudian bercerita tentang seorang anak yang terlambat meminta maaf kepada orang tuanya. Tentang penyesalan yang datang saat waktu tak lagi bisa diputar. Tentang hati yang keras karena jarang disentuh oleh dzikir dan doa.
“Ramadhan datang bukan sekadar untuk menahan lapar,” beliau menegaskan, “tetapi untuk membakar kesombongan kita, membakar kemalasan kita, membakar dosa-dosa yang kita simpan diam-diam.”
Air mata kini semakin banyak mengalir. Sebagian pelajar menyeka wajahnya. Sebagian lagi terisak dalam diam.
Beliau menutup tausiyah dengan ajakan yang menyentuh hati:
“Kalau hari ini hati kalian terasa panas… itu bukan karena malu. Itu tanda dosa sedang dibakar. Jangan padamkan api itu. Biarkan ia membakar semua keburukan, agar kalian keluar dari Ramadhan sebagai generasi yang bersih, kuat, dan dirindukan surga.”
Ketika doa dipanjatkan, suasana benar-benar berubah menjadi lautan haru. Tangan-tangan muda terangkat tinggi. Bibir bergetar memohon ampun. Ada yang menangis tersedu, mengingat dosa kepada orang tua. Ada yang menangis karena baru menyadari betapa Allah masih memberi kesempatan.
Pagi itu di SMKN 1 Kisaran, ceramah bukan lagi sekadar rangkaian kata. Ia menjadi cahaya. Ia menjadi api yang membakar dosa. Ia menjadi titik balik.
Ramadhan hadir sebagai bulan pembakaran — dan di hadapan generasi muda, api itu menyala… menghangatkan, memurnikan, dan menghidupkan hati yang hampir padam. (RH)
Bimbingan Penyuluhan Persiapan Pelaksanaan Kurban
Bimbingan Penyuluhan Seni Budaya Islam
Bimbingan Penyuluhan Keluarga & Narkoba